Di suatu
siang yang panas sekali, aku menghapus peluh yang menetes hampir seperti
hujan.Dengan sapu tangan coklat yang selalu kutaruh di saku celana sebelah
kanan, setengah celingak-celinguk di depan papan pengumaman jadwal ujian, aku
beranjak gontai melangkahkan kaki ke kantin fakultas ekonomi di belakang
kampus.
Beberapa anak
angkatan di bawahku tersenyum menyapa ke arahku sambil menundukkan kepala, aku
kurang seberapa mengenal mereka, tapi kubalas senyuman itu dengan ramah sambil
tetap menunjukkan kerepotanku membawa buku-buku akuntansi yang super duper
berat itu.
Singkat cerita,
setelah menenggak sebotol kecil sprite dingin dan membayarnya, aku kembali ke
gedung ekonomi, menanti kuliah siang yang terasa lama, karena waktu itu masih
jam 11 lebih, dan kampus sepi karena hari jum’at. Akupun memilih duduk di taman
kampus dengan rindangya pohon-pohon hijau taman gedung ekonomi.
Sekitar 10 atau
15 menit melamun, sesosok gadis yang kukenal melangkah tergesa-gesa sambil
membetulkan BH nya, dan tampak sama kerepotannya dengan aku, membawa setumpuk
buku yang tampak tak seimbang dengan ukuran tangannya yang mungil. Gadis
berkulit putih itu tampak mengenaliku, lalu setengah berlari menghampiriku
sambil mengurai seulas senyuman manisnya. “Haiiiii”
Serunya.
“Hai juga”, sahutku.. Dia langsung mengibaskan tangganya ke bangku tempat aku
duduk, takut ada debu yang akan mengotori celana jeans ketatnya, seketat
jeansnya itu membelit pantat cantiknya yang terbungkus CD berenda hitam
kesukaanku, yang nampak samar tercetak padat pada lekukan antara paha, memek
dan batas paha belakangnya, aku menelan ludah dan kontol ku mulai bergejolak.
Dia menunduk,
tak sengaja memperlihatkan BH renda nya yang tampak menggantungan dada nya yang
ber-cup B, lalu segera mengambil posisi memulai obrolan dengan segala keluh
kesah kerepotannya di rumah mengerjakan tugas akuntansi manajemen, sampai ribetnya
mengurusi manajemen pabrik pakaian milik bokapnya yang sedikit mengalami
mis-manajemen.
Aku
menanggapinya dengan senyum dan komentar-komentar singkat yang membangun,
sampai tanpa sadar tangannya mendarat di tengah pahaku, tak sengaja menyenggol
burungku yang lagi berdiri yang entah kenapa membuat aku tidak tahan dan ingin
memasukan kontol ku kedalam lobang vagina nya yang sangat menawan itu.
Spontat dia
nyeletuk bingung : “Eh, lho, kamu kok bangun ? sejak kapan ? hayoop… mikirin
apaa?pasti yang jorok-jorok yaa ?, dan komentar itu semakin panjang sering
makin merahnya mukaku, aku hanya bisa menunduk malu.
Tanpa bisa
kutebak dia memberikan sebuah kejutan yang sangat-sangat membuat aku suprise
setengah mati jantungan “Emmm, mau dibantuin nga ?”
Wow, pikirku,
hemm, aku setengah binguhng juga, bagaimana kita bisa “gituan” di kampus?
setengah sadar bibirku mengucap, “Wah, Intan… mau dimana nih ?”. kita ke lantai
3 aja yuk, kan masih sepi. Setengah ragu namun dikalahkan oleh nafsuku aku
menurut saja dengan sarannya. Biar nggak bikin curiga OB nya kampys yang bagiannge-pel, Intan pun beranjak duluan ke lantaii 3 dan langsung menuju kamar
mandi, lalu menguncinya dari dalam, selang 5 menit, aku menyusuk naik ke lantai
3 dan telah memastikan sama sekali tidak ada orang, aku menuju kamar mandi yang
letaknya di pojok dan relatif terhalang pembatas ruangan, aku mengetuk pintu
kamar mandi yang tertutup.
Cklik, terdengan
slot dibuka, lalu aku mendorong pelan pintu itu sedikit, menyelinap, lalu
cepat-cepat menutupnya seraya menghela nafas panjang karena deg-deg’an
sekaligus capek merasakan terjalnya tangga gedung ekonomi, Intan tersenyum
sambil langsung menarik pinggangku mendekat, sehingga bibirku yang setengah
terburu-buru, dan langsung tanganku ter-alih membuka kancing kemeja Intan, dan
menyelipkan tanganku ke sela-sela bh rendanya






0 komentar:
Posting Komentar